Menganalisa Chart Dengan Menggunakan Standar Deviasi (Lanjutan)
Setelah
beberapa minggu yang lalu saya sempat posting menganalisa chart dengan
menggunakan standar deviasi dan cara setting standar deviasinya, sekarang saya
mencoba share melihat dominiasi pergerakan harga pada setiap pasangan mata uang
(pair), dengan menggunakan standar deviasi. Dengan settingan yang sama dan
dengan menggunakan indikator yang sama, yaitu Bollinger band, dan dengan
pemahaman yang sama seperti postingan yang lalu. Bagi yang belum baca postingan
yang lalu bisa di liat di sini http://analystforex.blogspot.co.id/
atau http://analystforex.blogspot.co.id/2015/11/menganalisa-chart-dengan-standar-deviasi.html
Sebelum
saya lanjutkan saya coba review pemahaman pada postingan yang lalu tentang
standar deviasi. Dalam Statistik, wilayah data yang
berada diantara +/- 1 standar deviasai akan berkisar 68.2%, wilayah
data yang berada diantara +/- 2 standar deviasi akan berkisar 95.4%, dan
wilayah data yang berada diantara +/- 3 standar deviasi akan berkisar
99.7%. (sumber wikipedia).
Dalam distribusi normal data, juga dikenal
sebagai kurva lonceng, sebagian besar data dalam distribusi – sekitar 68% –
akan jatuh dalam, kurang atau lebih satu satu standar deviasi dari mean (-σ
atau +σ). Sebagai contoh, jika standar deviasi dari satu kumpulan data adalah
2, maka sebagian besar data pada kumpulan akan berjarak plus atau minus 2 dari
rata-rata. Sekitar 95,5% dari data yang terdistribusi normal adalah dalam dua
standar deviasi dari mean, dan lebih dari 99% berada dalam jarak 3 standar
deviasi dari rata-rata.
Kira kira seperti itu lah standar deviasi. Nah,
sekarang saya langsung masuk bagaimana cara melihat dominasi pergerakan harga.
Yang perlu di perhatikan dalam penggunaan standar deviasi adalah standar
deviasi +/- 1, kenapa? Karena setelah harga bergerak melewati standar deviasi
+/- 1 maka yang terjadi adalah ubnormal up atau upnormal down, atau dengan kata
lain “ ketika harga bergerak melewati standar deviasi +/- 1 maka dominasi
buyers dan seller terlihat jelas “.
Kalau harga bergerak melewati standar deviasi +1
maka asumsi nya adalah buyers mendominasi pergerakan harga, begitu juga ketika
harga melewati standar deviasi -1 asumsi nya adalah sellers mendominasi
pergerakan harga.
Kenapa bisa demikian? Balik lagi ke pemahaman
yang sudah saya review dan saya post sebelumnya, ketika data berada diantara
standari deviasi +/-1 maka data yang sudah di oleh adalah 68.2%, dan ketiak
data melewati standar deviasi +/- 1 maka data akan menuju standar deviasi +/-2,
dimana ketika harga berada diantara standar deviasi +/- 2 maka data yang di
oleh adalah 95.4 %, atau bahasa sederhana nya ketika harga melewati standar
deviasi +/- 1 terjadi trend up atau trend down. Maka dari sanalah terlihat
dominasi pergerakan harga saat ini dikuasai oleh buyer atau seller.
Disini saya gunakan Chart EURUSD sebagai contoh, sebelum harga menjadi trend up coba
perhatikan pergerakan nya, sellers sempat mendominasi pergerakan harga, dan
membawa harga menuju standar deviasi -3 (99.7%) data yang sudah diolah. Dan
coba perhatikan pergerakan harga ketika menjadi trend up, harga langsung menuju
standar deviasi +3 dan kemudian melewati standar deviasi +3, tapi sebelum harga
menuju standar deviasi +3 harga terlebih dahulu menuju standar deviasi +1
(sangat jelas), dari sana asumsi nya sudah jelas, harga di dominasi oleh siapa,
dan stategi entry nya pun sudah sangat jelas.
Sampai disini dulu, nanti di lanjutkan lagi,, semoga bermanfaat.
:D


No comments:
Post a Comment